Oleh Fiqri Rabuna
Diantar banyaknya umat Islam banyak yang tidak mengerjakan rukun islam. Mereka yang mengerjakan rukun Islam tidak berasaskan Iman. Padahal iman sebagai landasan sorang muslim dalam berislam secara damai. Mereka yang meyakini rukun iman tidak di buktikan dengan amalan sholih. Padahl, syariat sebagai penyuci jiwa dan penguat keimanan.
Iman tanpa amal tidak sempurna, begitu juga amal tanpa iman tidak bernilai apa-apa di hadapan sang Ilahi. Tradisi berislam hanya sekedar ritual, tanpa berasaskan iman tidak akan membuat kita menjadi muslim yang berislam secara tenang dan damai. Mengerjakan Islam hanya sekedar menggugurkan kewajiban semata tanpa melibatkan hati akan terasa berat. Sehingga orang ini tergolong kepada muslim yang fasik.
Membaca karya-karya Nursi seperti khutbah Syamiah, yang berupa catatan khutbah Siad Nursi, Isyaratul I’jaz, dan magnum opusnya Risalah Nur akan didapati pendekatan yang sangat lembut di satu sisi dengan menghadirkan perumpamaan-perumpamaan sekalipun mengurai persoalan akidah, dan sangat sufistik disisi lainnya.
Aqidah sebagai azas dalam membendung arus liberalisme yang dimana bertujuan sebagai sebagai benteng yang kokoh agar muslim selamat dri jurang kehancuran. Liberalisasi ilmu agama terus di lakukan sebagai upaya westernisasi (hidup mengikuti gaya barat) berdalih mengunakan nilai-nilai keislaman, nyatanya ingin memisahkan Islam dan kehidupan. Misi westernisasi ini adalah agar umat musilm meninggalkan nilai-nilai ajaran yang di syariatkan, bukan hanya semata-mata untuk membuat muslim keluar dri indentitas keislamanya. Artinya tetap sebagai seorang muslim namun berislam tidak sesuai dengan prinsip sayriat.
Tentu ini akan menjelma menjadi cara pandang muslim itu sendiri berislam secara barat . Dari sinilah muara cikal bakal terjadinya perpecahan antar umat muslim. Jika tidak segera di benahi maka akan terjadi keretakan di internal umat islam bahkan berpotensi akan hilang dri negara yang beridiologi Pancasila ini.
Seperti halnya Islam yang pernah berjaya di Andalusuia Sepanyol selama ribuan tahun yang saat ini hanya tinggal sejarhnya saja. Tentu kita sebagai penerus estafet kepemimpinan cendikiawan muslim terdahulu yang meletakkan pilar-pilar kaimanan tidak mengunginkan hal tersebut, namun kebanyak dari umat muslim sendiri bersikap bodoh amat terhadap agamnya. Isu-isu yang nyatanya menciderai Islam atau penistaan terhadap islam terkadang tidak peduli. Muslim yang paham terhadap islam tatapi tidak peduli terhadap islam.
Dalam penjelasannya padan Forum Saturday INSIST , Hasbi Sen mengutip pendapat Nursi, seorang muslim kepada muslim lainnya, mestinya kental akan unsur pengorabanannya daripada sebaliknya. Tidak sempurna iman seorang apabila tidak mencintai saudaranya seperti ia mencii saudaeanya sendiri.
Di sini ukhuwwah Islamiyah dibangun lewat loyalitas aqidah atau keimanan yang sama yang dalam bahasa al-Khahtani disebut “al-wala’ fil Islam”. Nursi menambahkan, spectrum ukhuwwah Islamiyah yang berasaskan pada iman, akan merekatkan jurang pemisah yang seringkali dibangun hanya atas narasi perbedaan masalah khilafiyah semata.
Seringkali kita umat islam berdepat mengenai persoalan khilafiayanyah secara berlebihan mengutamakan argumentasi masing-masing, menganggap bahwa kebenaran bersifat mutlak, tanpa mentoleransi pandangan yang lain. Padahal apa yang kita jadikan sebagai panduan belum tentu benar, dan yang kita anggap salah bisa jadi itu yang benar. Rasionalisasinya dalam perkara khilafiah adalah, selama ada dalil sah-sah sja dalam melaksanakan. ketika amalan-amalan yang di lakukan memiliki landasan itu artinya amalan tersebut dapat di benarkan.
Dalam forum tersebut sya menyimpulkan, bagi Said Nursi, penting untuk umat ini, pada setiap individunya menyoroti dan memusuhi dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain khususnya pada perkara yang sejatinya hanya khilafiyah saja. Dari itu persaudaraan seiman menjadi mungkin untuk dicapai. Sebab ukuran utama dari kecintaan itu ada pada Allah. Kecintaan pada Allah akan menumbuhkan prioritas dalam memandang persaudaran: yaitu seiman. Di sini “asyidd’u ‘ala kuffar, ruhama’ bainahum menemukan relevansinya.
Oleh sebab itu, Hasbi Sen dalam simpulannya; menghimbau untuk tidak bersikap partisan. Bahwa ukhuwwah Islamiyah hanya akan dapat diraih dengan menekan ego masing-masing untuk menaruh loyalitas kepada Islam, keimanan dan seputar dari itu, pada tempat tertinggi dalam hirarki kepatuhan dan kesetiaan. Ukhuwah Islamiyah sendiri pada dasarnya disatukan oleh semangat dan akidah yang sama; silatul iman, persaudaraan atas Iman.
Ini penting untuk disadari, sebab tanpa ilmu, keimanan akan rapuh dan mudah diterjang oleh pelbagai macam syubhat. Maka ukhuwah Islamiyah idealnya diisi oleh semangat Iman dan dibungkus oleh Ilmu. Di sini makna “imannya berlandaskan pada ilmu, dan ilmunya menguatkan imannya” perlu dipahami dan diamalkan. Karna amalan yang tertinggi dri ilmu dan amal shaleh adalah berislam dari ritual hingga intlektual. Maka dari itu akan terciptnya mukin yang berislam secara benar. Secara otomatis jiwa ukhuwah Islamiah akan kokoh antara muslim yang satu dengan muslim yang lainya.
Oleh karena itu, perlu sekiranya muslim yang satu dengan muslim yang lain bijak dalam menyikapi adanya perbedaan. Perbedaan itu indah, akan terasa indah apabila perbedaan itu kita jadikan sebagai satu kesatuan yang menghadirkan nilai-nilai ukhuwah islmiah terhadap perbedaan. Beda bukan berarti tidak sama justru adanya perbedaan memberikan khazah pengetahuan bahwa islam kaya akan nilai-nilai keislaman. Karna tujuan kita sama-sama mengharap ridha Ilhi, dengan cara-cara yang berbeda, beda artinya seauai dengan tuntunan Syariat.
Majadi umat muslim sja tidak cukup yang hanya sekedar mengerkajakn rukun Islam, harus ada tekad kuat untuk naik ke tingkat mukmin yang berarti berislam sekaligus meyakini rukun islam yang lima jarus di buktikan dengan enam rukun iman diyakini dengan sepenuh hati nurani dan tentu harus di buktikan dengan amal sholih. Sehingga akan terbentuk pada tingkatan muhsin yang berarti kita beribadah seakan-akan melihat Allah , apabila kita tidak melihat Allah sesungguhnya allah melihat kita. Dari tingatan terebut masih ada tingkatan yang lbih tinggi yakni Berislam dari ritual hingga intlektual.